Jumat, 20 Juni 2014

bahasa indonesia 2 Tulisan


Sejarah kerajaan pajajaran

Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda). Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) di kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Suka Bumi. 

Awal Pakuan Pajajaran 
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat. 

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin. 

Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit. 

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal. 

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk. 

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482. 

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482. 



Sumber Sejarah 
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru. 

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti: 
• Prasasti Batu Tulis, Bogor
• Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
• Prasasti Kawali, Ciamis
• Prasasti Rakyan Juru Pangambat
• Prasasti Horren
• Prasasti Astanagede
• Tugu Perjanjian Portugis (padraƵ), Kampung Tugu, Jakarta
• Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
• Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan
• Berita asing dari Tome Pires (1513) dan Pigafetta (1522) 

Segi Geografis Kerajaan Pajajaran 
Terletak di Parahyangan (Sunda). Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). 

Kondisi Keseluruhan Kerajaan pajajaran (Kondisi POLISOSBUD), yaitu Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan) 

Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain : 

Daftar raja Pajajaran 
• Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
• Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
• Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
• Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
• Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
• Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
• Rahyang Niskala Wastu Kencana
• Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
• Sri Baduga MahaRaja
• Hyang Wuni Sora
• Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
• dan Prabu Ratu Dewata.


Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran 
Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat. 

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan. 

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan 

Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman. 

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan 

Puncak Kehancuran 
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. 

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang,
 berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman. 

Kondisi Kehidupan Ekonomi 
Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan) 

Kondisi Kehidupan Sosial 
Kehidupan masyarakat Pajajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman (pemain gamelan, penari, dan badut), golongan petani, golongan perdagangan, golongan yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll) 

Kehidupan Budaya 
Kehidupan budaya masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik. 

Kesimpulan 
• Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda).
• Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab cerita, dan berita asing.
• Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.

Selasa, 03 Juni 2014

tugas bahasa indonesia 2 cerpen


Cerpen : Siapa yang lebih setia…? Laki laki atau wanita?

Di gubuk reot mereka tinggal,seorang pujangga sanjaya bersama permaisurinya dwi permata sari yang ada di sana dengan beberapatetangga.Penuh kebahagiaan…. keharmonisan,keceriaan,canda tawa selalu menghiasi hari hari mereka.Saling mengerti dan memahami yang selalu menjadi pondasi.

Mereka bermata pencaharian sebagai petani.datanglah suatu hari yang menguji kesetian cinta mereka berdua.Pagi pagi sekali sang pujangga meninggalkan sang permaisuri ke sawah,melihat sang istri dengan tertidur lelap,tak tega sang pujangga membangunkannya.
Di dapati sanjaya tak ada di samping,segeralah dwi permatasari memasak untuk sanjaya

“a…h kanda pasti sudah berangkat ke sawah,aku harus segera mungkin mengirim sarapan untuk kanda”  sesampainya di sawah terlihat sanjaya mengayunkan cangkulnya.
“kanda sanjaya………sarapan dulu kanda”sapa dwi permata sari
“ya dinda tunggu sebentar”saut sanjaya.bersamaan itu,seekor ular kobra menghampiri dwi permata sari.terlihat jelas oleh sanjaya kobra itu mau mematuk dwi permata sari.
“dinda……. Awas di samping dinda ada ular!”
“a…h  kanda,makan dulu baru bercanda” bantah dwi,karena memang mereka selalu bercanda,maka dwi permata saripun menganggap hal itu sebagai bercanda.
“a….a…,kanda tolong” ular itu mematuk bagian belakang kaki dwi permata sari
“dinda….,dinda tidak apa apa?”Tanya sanjaya
“kakiku mati rasa kanda”jawab dwi permata sari
Segera mungkin sanjaya membawa dwi permata sari ke dusun,
“tolong……… tolong….”pangil sanjaya kepada tetangga,tubuh dwi permata sari membiru dan matanya pun terpejam,sembari dwi permata sari mencoba menggerakkan bibirnya”maafkan dinda kanda,bilaman dinda masih diberi waktu,dinda kan selalu ingin bersama kanda”

“cepat pangil tabib kesini”suruh sanjaya kepada tetangga
Tatkala tabib datang,segera mungkin tabib mmeriksa denyut nadi dwi,tapi tak di dapatinya.”maaf sanjaya,…”kata tabib
“tidak…. Tidak boleh,hanya bersamamu aku hidup,bersamamu ku betahan”

Semalam suntuk sanjaya menangisi kepergian dwi permata sari,pagi pagi sanjaya mengumpulkan batang pohon pisang dan merakitnya.Dengan perasaan sedih nan pilu sanjaya membawa dwi permata sari ke tepi sungai dengan rakit pohon pisang
“dinda apalah arti hidupku bila tak bersamamu…,aku kan terus bersamamu hingga akhir hidup ini dinda,kanda kan membawamu ke ujung samudra tak bertepi,dam mmbiarkan pohon pisang ini membusuk bersama dengan berakhirnya cinta kita,kanda tak akan berlabuh sebelum bersatunya cinta kita kembali”

“Ya Tuhanku… aku percaya akan kekuasaanMu
Ku sadar benar ini kehendakMu
Bilamana Kau menghendakinya,tawarlah air laut ini
Surutlah air ini
Binasalah diri ini
Tapi satu hal yang pasti aku mohon kepadaMu
Tolong beri kehidpan pada istriku ini….
Ambil separuh nyawaku untuknya
Untuk kehidupannya”

Rakit itupun terus mengikuti arus sungai dan membawa mereka pada hamparan samudra,terus menangis dan berdoa yang hanya bisa di lakukansanjaya.Tiba tiba seekor ular kobra menghampiri mereka berputar putar di sekeliling mereka.
“hai kau kobra,bila mana memang Tuhan yang menjadikan kau memisahkan aku dengan dinda,maka persatukanlah kami dengannya.Patuklah diriku ini biar ku bisa bersama dinda”

Namun kobra itu tak mematuk sanjaya tapi malah mematuk bagian belakang kaki dwi permata sari.
“kanda………,kenapa kta di sini?,bukankah kita di sawah..? kanda sudah sarapan belum?”tiba tiba terdengar suara dwi permata sari di telinga sanjaya.
“indahnya mimpi ini sampai Kau dengarkan suara istriku ya… Tuhanku”gumam sanjaya dalam hati
“kanda…. Kanda… di Tanya kok diam saja? Ada apa kanda?”Tanya dwi permata sari,sanjaya pun mencoba tuk membuka mata karena masih tak yakin dengan apa yang barusan di dengar
“dinda… kau benar benar dinda…?ya Tuhanku ku bersujud dan bersyukur kepadaMu,Kau masih mau mendengar doaku.,,,, dinda tak ingat kalau dinda di patuk ular..?tanya sanjaya ke dwi permata sari
“oooo ia.. dinda ingat… tapi kenapa kita di sini kanda?”Dwi penuh heran bertanya kepada sanjaya
“kanda membawa dinda tuk selalu hidup mati bersama dinda….,di sana ada pulau,mari kita berlabuh di sana,di sana kita akan hidup bersama berdua”ajak sanjaya
“baik kanda”dwi pun mersa bahagia dengan kesetiaan dan cinta sanjaya dan ia pun merasa yakin kan bahagia bersama sanjaya.

Di pulau itu hanya mereka berdua yang tinggal.mereka hidup dengan menangkap ikan,menanam apa apa yang bisa di tanam dan di makan.Mereka sangat bahagia meskipun hidup seadanya.

Suatu ketika kapal seorang saudagar kaya melewati pulau tersebut dan mencoba berlabuh tuk memastikan pulau tersebut berpenghuni atau tidak,dan mencoba membuka pasar perdagangan di pulau itu.Bersama itu sanjaya pergi menangkap ikan dan dwi permata saripun sedang mencuci pakaian di tepi sungai yang jauh jaraknya dari tempat sanjaya.Saudagar itupun melihat dwi yang sedang mencuci pakaian,dan menghampiri dwi

“apa yang sedang gisana lakukan di tempat seperti ini,apa di sini ada desa untuk berdagang?” Tanya saudagar
“tidak ada gisana,yang ada hanya kami berdua di pulau ini.aku dan suamiku sanjaya,sedangkan aku sekarang mencuci pakaian kami berdua”jawab dwi permata sari
“Apakah gisana bisa tinggal di tempat seperti ini yang tak berpenghuni?selalu di landa sepi?apakah gisana ak ingin hidup seperti halnya manusia lainnya?lebih baik gisana ikut saya,di sana banyak kehidupan yang menanti kita!”ajak saudagar
“di sini aku memang sepi dan ingin meninggalkan semua ini tetapi disini ada sanjaya yang selalu menemani.tapi… bukan disini tempatnya yang ku harapkan”jawab dwi permata sari
“coba gisana pikirkan sejenak mana yang lebih baik dan harus di putuskan,bilamana gisana ingin meniggalkan semua ini,gisana bisa ikut bersama saya dan akan ku jadikan gisana istri saya”tambah saudagar
“baiklah gisana,….aku akan ikut bersamamu”dwi pun memutuskan tuk meninggalkan kesepiannya yang selama ini ia rasakan  dan pergi bersama saudagar itu menuju kota.

Haripun menjelang sore dan sanjaya pulang dari menangkap ikan dan ia ingin segera cepat sampai rumah dan memberi tahu dwi permata sari kalau ia hari ini berhasil menangkap ikan banyak.Sesampainya di rumah tak didapatinya dwi permata sari dan hanya selembar daun jati yang ia temukan di atas meja bambunya.Di daun itu bertuliskan
“maafkan dinda kanda sanjaya,dinda ingin selalu bersama kanda,tapi dinda juga ingin hidup bahagia bersama dengan yang lainnya,yang mana kebahagiaan itu bukan milik kita semata”
Sanjaya menangis,dan seakan tak kuasa menerima kenyataan ini semua
“ya Tuhanku kau memisahkan kami dengan kematian dan mengembalikan kebahagiaan dalam kehidupan.tapi kehidupan yang lain lah yang di inginkan dinda,mohon beri kebahagiaan baginya ya Tuhanku…”
Dan sanjaya tetap memutuskan tuk hidup sendiri di pulau terpecil itu,dan tidak pergi mencari sang istri yang pergi.karena itu memang yang menjadi keinginan dwi permatasari.

Kamis, 01 Mei 2014

Resensi Film Bahasa indonesia 2


Sinopsis Film Insidious Chapter 2



Masih ingat dengan film horor yang berjudulInsidious yang dirilis pada 2011 lalu dan dibintangi oleh Patrick Wilson? Nah pada bulan September 2013 mendatang, James Wan, sang sutradara kembali merilis sekuel keduanya yang berjudul Insidious Chapter 2. Dalam film kedua ini, bintang utama Patrick Wilson masih berperan sebagai Josh Lambert.

Memang akhir-akhir ini, film bertema horor menegangkan sedang naik daun dan sangat digemari oleh penikmat film. Contohnya film Mama, Evid Dead, dan salah satu film horor yang fenomenal adalah The Conjuring yang berhasil merajai box office di Amerika Serikat. Di Insidious Chapter 2 ini, cerita film tetap ditulis oleh Leigh Whannell.
Insidious Chapter 2
Berikut Sinopsis Film Insidious 2 :

Di dalam Insidious 1 diceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anak laki-laki dan seorang bayi. Dalton (Ty Simpkins), si anak laki-laki yang mampu melakukan perjalanan astral saat tidur. Suatu ketika dalam perjalanan astralnya, dia tersesat dan tak mampu kembali ke tubuhnya.

Hal itu membuat banyak arwah jahat yang berniat membalas dendam pada dunia manusia mengincar tubuh Dalton untuk mereka rasuki. Kemampuan Dalton dalam melakukan perjalanan astral diturunkan oleh sang ayah Josh Lambert (Patrick Wilson).


Karena itu, Josh adalah orang satu-satunya yang bisa membawa arwah Dalton kembali ke tubuhnya dengan ritual-ritual tertentu.

 Nah pada film Insidious 2 ini, mereka sekeluarga pindah ke rumah nenek Dalton. Awalnya tidak ada hal yang membuat mereka takut, namun hal-hal aneh mulai terjadi.

Sejarah mereka terulang kembali. Orang asing dengan kostum kuno sering muncul serta terdengar suara bisikan di ruang bayi, dan banyak hantu mulai bermunculan.

Awalnya mereka tidak tahu apa penyebab situasi ini terulang kembali.
Dan semakin lama situasi ini berjalan terungkaplah bahwa ayah dalton telah diikuti oleh makhluk jahat dari dunia astral saat dia menyelamatkan dalton di Insidious 1.

Di salah satu klip di trailernya terlihat bahwa sang makhluk jahat mengambil bayinya. Apakah yang dikejar sekarang adalah bayinya?
Saksikan film Insidious Chapter 2 mulai 13 September 2013 di bioskop kesayangan anda.

Film Insidious Chapter 2 :
  • Sutradara : James Wan
  • Produser : James Blum
  • Penulis Naskah : Leigh Whannell
  • Pemain : Patrick Wilson, Rose Byrne, Lin Shaye, Ty Simpkins, Barbara Hershey, Danielle Bisutti, Michael James Grise, Lindsay Seim
  • Genre : Horor
  • Tanggal Rilis Perdana : 13 September 2013 (AS)
  • Studio : FilmDistrict

Kamis, 03 April 2014

Tempat Makan


Pondok Bakso Condong Raos


Alamat : Jl. Gede No. 153 (Dekat SMA 2 Depok)

Pondok bakso ini adalah salah satu tempat yang sering saya datangi saat SMA. Raos yang artinya enak dalam bahasa sunda kabarnya bukan hanya orang Depok datang menikmati, orang luar Depok pun sering datang makan disana. Bakso Condong Raos ini tidak jauh beda sama bakso lainnya. Perbedaannya cuma di rasa baksonya yang enak banget dan bikin nagih.

Cara pembuatan bakso di sana sama banget sama pembuatan bakso pada umumnya. Bakso mentah yang abis digiling hasil buatan sendiri direbus selama 30 menit. Tapi sebelumnya, siapin mangkok yang udah ditambahin bumbu penyedap kayak garam, mecin, bawang goreng, dan daun seledri. Kemudian tambahin mie, bihun, tauge, dan sawi hijau. Dicampur-campur juga boleh, mix and match sesuai selera, abis itu tuang bakso yang udah mateng beserta kuahnya lalu disajikan.


Rasa:
Sesuai dengan namanya, bakso Condong Raos ini rasanya enak, baksonya kenyal dan empuk banget saat digigit, ditambah ada campuran telur di dalamnya. Kekenyalan baksonya pas maka hasilnya sepadan dengan jumlah rupiah yang kita keluarkan. Nah, untuk penyedap tambahannya dibisa pakai sambel cabe dan saus Belibis, bukan saus murah yang bikin perut kita sakit.




Penyajian:
Sederhana, baksonya disajikan di mangkuk ukuran sedang. Pastinya mangkuknya ada gambar ayamnya.

Harga:
Harga yang ditawarka terjangkau buat ukuran makan bakso.
Bakso 1 Porsi: Rp11.000,-
Bakso ½ Porsi: Rp7.000,-
Mie Ayam Bakso: Rp12.000,-
Mie Ayam: Rp8.000,-

Kebersihan:
Bersih, pegawainya banyak banget dan mata mereka gak bisa liat dikit mangkok kotor. Langsung diangkut!





Kenyamanan:
Karena di sana rame terus jadinya berisik apalagi pas sore. Tapi, kalo makannya sambil ngobrol bareng temen atau keluarga cocok aja, jadi gak kalah berisik deh.

Yang biasa makan di sana:
Semua kalangan, dari mulai bocah kecil sampe kakek-nenek ada semua di sana, kebanyakan satu keluarga besar dan remaja-remaja yang bawa temennya dan kekasihnya.

Waktu jualan:
Buka dari jam 10 pagi sampe sehabisnya. Kalo pas abis buka, 10 menit langsung abis ya langsung tutup. Kalo gak mau keabisan jangan terlalu malam datangnya, ya.

Jumat, 14 Maret 2014

Tulisan Bahasa Indonesia


Biografi Bung hatta
Dr.(H.C) Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Muhammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarangBukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia bersama Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteridalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Bandar udara internasional Jakarta, Bandar Udara Soekarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya. Selain diabadikan di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlemdengan nama Mohammed Hattastraat. Pada tahun 1980, ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Bung Hatta ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986/
Latar belakang[sunting | sunting sumber]
Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat.[2] Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902. Namanya, Athar berasal dari bahasa Arab, yang berarti "harum".[3] Ia merupakan anak kedua, setelah Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, ia telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri.[4]Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang. Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di Jakarta.
Ayahnya meninggal pada saat ia masih berumur tujuh bulan.[3] Setelah kematian ayahnya, ibunya menikah dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang dari Palembang,[5] Haji Ning sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah, kakeknya dari pihak ibu. Dari perkawinan Siti Saleha dengan Haji Ning, mereka dikaruniai empat orang anak, yang kesemuanya adalah perempuan.[3]
Pendidikan dan pergaulan[sunting | sunting sumber]
Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta.[6] Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga.[7] Ia lalu pindah ke ELS di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913,[7] kemudian melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917. Selain pengetahuan umum, ia telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.[8] Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Usaha dan juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara.[9] Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di Jakarta.[10]
Kakeknya bermaksud akan ke Mekkah, dan pada kesempatan tersebut, ia dapat membawa Mohammad Hatta melanjutkan pelajaran di bidangagama, yakni ke Mesir (Al-Azhar).[11] Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas surau di Batu Hampar yang memang sudah menurun semenjak ditinggalkan Syaikh Abdurrahman. Tapi, hal ini diprotes dan mengusulkan pamannya, Idris untuk menggantikannya.[11] Menurut catatan Amrin Imran, Pak Gaeknya kecewa dan Syekh Arsyad pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan.[12]
Perjuangan & pergerakan[sunting | sunting sumber]
1921-1932: Sewaktu di Belanda[sunting | sunting sumber]
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/a/a3/Snapshot_20130115_12.JPG/256px-Snapshot_20130115_12.JPG
http://bits.wikimedia.org/static-1.23wmf16/skins/common/images/magnify-clip.png
Hatta (pertama dari kanan) bersama para pengurus Perhimpunan Indonesia, pada waktu itu (tahun 1925) Hatta masih berstatus seorang bendahara di situ
Pergerakan politik ia mulai sewaktu bersekolah di Belanda dari 1921-1932. Ia bersekolah di Handels Hogeschool (kelak sekolah ini disebut Economische Hogeschool, sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam), selama bersekolah di sana, ia masuk organisasi sosial Indische Verenigingyang kemudian menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker. Pada tahun1923, Hatta menjadi bendahara dan mengasuh majalah Hindia Putera yang berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.[13] Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereniging (Perhimpunan Indonesia; PI).[14]
Pada tahun 1926, ia menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia. Sebagai akibatnya, ia terlambat menyelesaikan studi.[15] Di bawah kepemimpinannya, PI mendapatkan perubahan. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan di Indonesia dengan memberikan banyak komentar, dan banyak ulasan di media massa di Indonesia.[15] Setahun kemudian, ia seharusnya sudah berhenti dari jabatan ketua, namun ia dipilih kembali hingga tahun 1930.[16] Pada Desember 1926, Semaun dari PKI datang kepada Hatta untuk menawarkan pimpinan pergerakan nasional secara umum kepada PI,[15] selain itu dia dan Semaun membuat suatu perjanjian bernama "Konvensi Semaun-Hatta". Inilah yang dijadikan alasan Pemerintah Belanda ingin menangkap Hatta.[17] Waktu itu, Hatta belum meyetujui paham komunis. Stalinmembatalkan keinginan Semaun, sehingga hubungan Hatta dengan komunisme mulai memburuk.[18] Sikap Hatta ini ditentang oleh anggota PI yang sudah dikuasai komunis.[19]
Pada tahun 1927, ia mengikuti sidang "Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial dan untuk Kemerdekaan Nasional" di Frankfurt.[a]Dalam sidang ini, pihak komunis dan utusan dari Rusia namapak ingin menguasai sidang ini, sehingga Hatta tidak bisa percaya terhadap komunis.[20] Pada waktu itu, majalah PI, Indonesia Merdeka masuk dengan mudah ke Indonesia lewat penyelundupan, karena banyak penggeledahan oleh pihak kepolisian terhadap kaum pergerakan yang dicurigai. [21]
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/5/5b/Mohammad_Hatta_hal25.JPG/250px-Mohammad_Hatta_hal25.JPG
http://bits.wikimedia.org/static-1.23wmf16/skins/common/images/magnify-clip.png
Mohammad Hatta bersama Abdulmadjid Djojohadiningrat, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Ali Sastroamidjojo
Pada 25 September 1927, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Madjid Djojohadiningrat ditangkap oleh penguasaBelanda atas tuduhan mengikuti partai terlarang yang dikait-kaitkan dengan Semaun, terlibat pemberontakan di Indonesia yang dilakukan PKI dari tahun 1926-1927, dan menghasut (opruiing) supaya menentang Kerajaan Belanda. Moh. Hatta sendiri dihukum tiga tahun penjara.[22] Mereka semua dipenjara di Rotterdam.[23] Dia juga dituduh akan melarikan diri, sehingga dia yang sedang memperkenalkan Indonesia ke kota-kota diEropa sengaja pulang lebih cepat begitu berita ini tersebar.[24]
Semua tuduhan tersebut, ia tolak dalam pidatonya "Indonesia Merdeka" (Indonesie Vrij) pada sidang kedua tanggal 22 Maret 1928.[23] Pidato ini sampai ke Indonesia dengan cara penyelundupan. Ia juga dibela 3 orang pengacara Belanda yang salah satunya berasal dari parlemen. Yang dari parlemen, bernama J.E.W. Duys. Tokoh ini memang bersimpati padanya. Setelah ditahan beberapa bulan, mereka berempat dibebaskan dari tuduhan, karena tuduhan tidak bisa dibuktikan.[25]
Sampai pada tahun 1931, Mohammad Hatta mundur dari kedudukannya sebagai ketua karena hendak mengikuti ujian sarjana, sehingga ia berhenti dari PI; namun demikian ia akan tetap membantu PI.[16] Akibatnya, PI jatuh ke tangan komunis, dan mendapat arahan dari partai komunis Belanda dan juga dari Moskow. Setelah tahun 1931, PI mengecam keras kebijakan Hatta dan mengeluarkannya dari organisasi ini.[26] PI diBelanda mengecam sikap Hatta sebab ia bersama Soedjadi mengkritik secara terbuka terhadap PI. Perhimpunan menahan sikap terhadap kedua orang ini.[27]
Pada Desember 1931, para pengikut Hatta segera membuat gerakan tandingan yang disebut Gerakan Merdeka yang kemudian bernama Pendidikan Nasional Indonesia yang kelak disebut PNI Baru. Ini mendorong Hatta dan Syahrir yang pada saat itu sedang bersekolah di Belanda untuk mengambil langkah kongkret untuk mempersiapkan kepemimpinan di sana. Hatta sendiri merasa perlu untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Oleh karenanya, Syahrir terpaksa pulang dan untuk memimpin PNI.[28] Kalau Hatta kembali pada 1932, diharapkan Syahrir dapat melanjutkan studinya.[28]
1932-1941: Pengasingan[sunting | sunting sumber]
Sekembalinya ia dari Belanda, ia ditawarkan masuk kalangan Sosialis Merdeka (Onafhankelijke Socialistische Partij, OSP) untuk menjadi anggota parlemen Belanda, dan menjadi perdebatan hangat di Indonesia pada saat itu. Pihak OSP mengiriminya telegram pada 6 Desember 1932, yang berisi kesediaannya menerima pencalonan anggota Parlemen.[29] Ini dikarenakan ia berpendapat bahwa ia tidak setuju orang Indonesia menjadi anggota dalam parlemen Belanda.[30] Sebenarnya dia menolak masuk, dengan alasan ia perlu berada dan berjuang di Indonesia.[b]Namun, pemberitaan di Indonesia mengatakan bahwa Hatta menerima kedudukan tersebut, sehingga Soekarno menuduhnya tidak konsisten dalam menjalankan sistem non-kooperatif.[31]
Setelah Hatta kembali dari Belanda, Syahrir tidak bisa ke Belanda karena keduanya keburu ditangkap Belanda pada 25 Februari 1934 dan dibuang ke Digul, dan selanjutnya ke Banda Neira.[32]Baik di Digul maupun Banda Neira, ia banyak menulis di koran-koran Jakarta, dan ada juga untuk majalah-majalah di Medan. Artikelnya tidak terlalu politis, namun bersifat lebih menganalisis dan mendidik pembaca. Ia juga banyak membahas pertarungan kekuasaan di Pasifik.[33]
Semasa diasingkan ke Digul, ia membawa semua buku-bukunya ke tempat pengasingannya. Di sana, ia mengatur waktunya sehari-hari. Pada saat hendak membaca, ia tak mau diganggu. Sehingga, beberapa kawannya menganggap dia sombong.[34] Ia juga merupakan sosok yang peduli terhadap tahanan. Ia menolak bekerja sama dengan penguasa setempat, misalnya memberantas malaria. Apabila ia mau bekerja sama, ia diberi gaji f 7.50 sebulan. Namun, kalau tidak, ia hanya diberi gaji f 2.50 saja.[35] Gajinya itu tidak ia habiskan sendiri. Ia juga peduli terhadap kawannya yang kekurangan.[35]
Di Digul, selain bercocok tanam,[36] ia juga membuat kursus kepada para tahanan. Di antara tahanan tersebut, ada beberapa orang yang ibadah shalat dan puasanya teratur; baik dariMinangkabau maupun Banten. Tapi, mereka ditangkap karena -pada umumnya- terlibat pemberontakan komunis.[37] Pada masa itu, ia menulis surat untuk iparnya untuk dikirimi alat-alat pertukangan seperti paku dan gergaji. Selain itu, dia juga menceritakan nasib orang-orang buangan dalam surat itu. Kemudian, ipar Hatta mengirim surat itu ke koran Pemandangan di Jakarta dan segera surat itu dimuat. Surat itu dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colijn.[38] Colijn mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul. Maka uang diberikan untuknya, Hatta menolak dan ia juga meminta supaya kalau mau ditambah, diberikan juga kepada pemimpin lain yang hidup dalam pembuangan.[36]
Pada 1937, ia menerima telegram yang mengatakan dia dipindah dari Digul ke Banda Neira.[c] Hatta pindah bersama Syahrir pada bulan Februari pada tahun itu, dan mereka menyewa sebuah rumah yang cukup besar. Di situ, ada beberapa kamar dan ruangan yang cukup besar. Adapun ruangan besar itu digunakannya untuk menyimpan bukunya dan tempat bekerjanya.[39]
Sewaktu di Banda Neira, ia bercocok tanam dan menulis di koran "Sin Tit Po" (dipimpin Lim Koen Hian; bulanan ini berhenti pada 1938) dengan honorarium f 75 dalam Bahasa Belanda. Kemudian, ia menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional; dipimpin Sam Ratulangi) dan juga, ia menulis di koran Pemandangan dengan honorarium f 50 sebulan per satu/dua tulisan.[40] Hatta juga pernah menerima tawaran Kiai Haji Mas Mansur untuk ke Makassar, dia menolak dengan alasan kalaupun dirinya ke Makassara dia masih berstatus tahanan juga.[41]Waktu itu, sudah ada Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri. Mereka semua sudah saling mengenal.
Selain itu, di Banda Neira, Hatta juga mengajar kepada beberapa orang pemuda. Anak dr. Cipto belajar tata-buku dan sejarah. Ada juga anak asli daerah Banda Neira yang belajar kepada Hatta. Ada seorang kenalan Hatta dari Sumatera Barat yang mengirimkan dua orang kemenakannya untuk belajar ekonomi dan juga sejarah.[42] Selain itu, dari Bukittinggi dikirim Anwar Sutan Saidisebanyak empat orang pemuda yang belajar kepada Hatta.[43]
Pada tahun 1941, Mohammad Hatta menulis artikel di koran Pemandangan yang isinya supaya rakyat Indonesia jangan memihak kepada baik ke pihak Barat ataupun fasisme Jepang. Kelak, di zaman Jepang tulisan Hatta dijadikan bahan oleh penguasa Jepang untuk tidak percaya Hatta selama Perang Pasifik.[44] Yang mana, kelak tulisan Hatta dibaca Murase, seorang Wakil KepalaKenpeitei (dinas intelijen) dan menyarankan Hatta agar mengikuti Nippon Sheisin di Tokyo[45] pada November 1943.[46]
1942-1945: Penjajahan Jepang[sunting | sunting sumber]
Pada tanggal 8 Desember 1941, angkatan perang Jepang menyerang Pearl Harbor, Hawaii. Ini memicu Perang Pasifik, dan setelah Pearl Harbor, Jepang segera menguasai sejumlah daerah, termasuk Indonesia. Dalam keadaan genting tersebut, Pemerintah Belanda memerintahkan untuk memindahkan orang-orang buangan dari Digul ke Australia, karena khawatir kerjasama dengan Jepang. Hatta dan Syahrir dipindahkan pada Februari 1942,[47] ke Sukabumi setelah menginap sehari di Surabaya dan naik kereta api ke Jakarta. Bersama kedua orang ini, turut pula 3 oranganak-anak dari Banda yang dijadikan anak angkat oleh Syahrir.[48]
Setelah itu, ia dibawa kembali ke Jakarta. Ia bertemu Mayor Jenderal Harada. Hatta menanyakan keinginan Jepang datang ke Indonesia. Harada menawarkan kerjasama dengan Hatta. Kalau mau, ia akan diberi jabatan penting. Hatta menolak, dan memilih menjadi penasihat.[49] Ia dijadikan penasihat dan diberi kantor di Pegangsaan Timur dan rumah di Oranje Boulevard (Jalan Diponegoro). Orang terkenal di masa sebelum perang, baik orang pergerakan, atau mereka yang bekerjasama dengan Belanda, diikut sertakan seperti Abdul Karim Pringgodigdo, Surachman, Sujitno Mangunkususmo, Sunarjo Kolopaking, Supomo, dan Sumargo Djojohadikusumo. Pada masa ini, ia banyak mendapat tenaga-tenaga baru. Pekerjaan di sini, merupakan tempat saran oleh pihak Jepang.[50] Jepang mengharapkan agar Hatta memberikan nasehat yang menguntungkan mereka, malah Hatta memanfaatkan itu untuk membela kepentingan rakyat.[51]
Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Catatan bawah[sunting | sunting sumber]
1.    ^ Nama aslinya adalah "Liga tegen Imperialisme, tegen Koloniale Onderdrukking en voor Nationale Onafhankelijkheid" (Noer 2012, hal. 21).
2.    ^ Menurut Soejitno Hardjosoediro (1984), Hatta pernah melakukan wawancara dengan Sin Tit Po dan Oetoesan Indonesia, Mohammad Hatta menolak masuk karena harus mengerahkan tenaganya terhadap perjuangan di Indonesia. Sebelumnya, ia berpendapat hanya menyerahkan masalah ini pada PNI. (Hardjosoediro 1984, hal. 52).
3.    ^ Sementara Amrin Imran menulis Hatta pindah ke Banda Neira pada 1937, Deliar Noer malah menulis pada tahun 1936 (Noer 2012, hal. 52).
Referensi[sunting | sunting sumber]
1.    ^ Daftar Nama Pahlawan Nasional Republik Indonesia, Departemen Sosial RI Online, Januari 2010. Diakses 26 Agustus 2012.
2.    ^ Noer 2012, hlm. 3.
3.    ^ Imran 1991, hlm. 2.
4.    ^ Imran 1991, hlm. 1.
5.    ^ Noer 2012, hlm. 4.
6.    ^ Imran 1991, hlm. 4.
7.    ^ Imran 1991, hlm. 4-5.
8.    ^ Noer 2012, hlm. 5.
9.    ^ Noer 2012, hlm. 8, 9.
10. ^ Noer 2012, hlm. 9.
11. ^ Noer 2012, hlm. 9-10.
12. ^ Imran 1991, hlm. 7.
13. ^ Imran 1991, hlm. 23.
14. ^ Noer 2012, hlm. 17-18.
15. ^ Noer 2012, hlm. 19.
16. ^ Imran 1991, hlm. 24.
17. ^ Imran 1991, hlm. 28.
18. ^ Noer 2012, hlm. 19-20.
19. ^ Noer 2012, hlm. 20.
20. ^ Noer 2012, hlm. 20-21.
21. ^ Noer 2012, hlm. 23-24.
22. ^ Hardjosoediro 1984, p. 27; Noer 2012, p. 25.
23. ^ Imran 1991, hlm. 29.
24. ^ Noer 2012, hlm. 25.
25. ^ Noer 2012, hlm. 29.
26. ^ Noer 2012, hlm. 33.
27. ^ Hardjosoediro 1984, hlm. 41.
28. ^ Noer 2012, hlm. 42.
29. ^ Hardjosoediro 1984, hlm. 51.
30. ^ Noer 2012, hlm. 37-38.
31. ^ Noer 2012, hlm. 38.
32. ^ Noer 2012, hlm. 42-43.
33. ^ Noer 2012, hlm. 50-51.
34. ^ Noer 2012, hlm. 47, 50.
35. ^ Noer 2012, hlm. 50.
36. ^ Imran 1991, hlm. 47.
37. ^ Noer 2012, hlm. 51-52.
38. ^ Imran 1991, hlm. 46-47.
39. ^ Imran 1991, hlm. 47-48.
40. ^ Noer 2012, hlm. 54-55.
41. ^ Noer 2012, hlm. 55.
42. ^ Imran 1991, hlm. 48.
43. ^ Noer 2012, hlm. 56.
44. ^ Noer 2012, hlm. 57.
45. ^ Imran 1991, hlm. 58.
46. ^ Noer 2012, hlm. 69.
47. ^ Imran 1991, p. 52; Noer 2012, p. 59.
48. ^ Noer 2012, hlm. 59.
49. ^ Imran 1991, hlm. 53.
50. ^ Noer 2012, hlm. 61.
51. ^ Imran 1991, hlm. 54.
Daftar pustaka
·         Soejitno, Hardjosoediro (1984). Kronologi Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Pradnya Parmita.
·         Imran, Amrin (1991). Mohammad Hatta:Pejuang, Proklamator, Pemimpin, Manusia Biasa. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. OCLC 9072338.
·         Noer, Deliar (2012). In Jaap Erkelens. Mohammad Hatta:Hati Nurani Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-709-633-5.